Siasat restoran menghadapi PSBB pandemi covid19, sebelum memasuki masa Pandemi Covid19 awal tahun 2020, dunia kuliner di Indonesia mengalami pertumbuhan luar biasa. Dalam artikel ini, pemakaian kata restoran bisa diartikan secara generic sebagai rumah makan.

Masa sebelum muncul Virus Corona Restoran dan Cafe menjamur di mana-mana. Berbagai konsep restoran bermunculan dengan berbagai sebutan. Ada Restoran Fine Dining yang mengutamakan penyajian menu exclusive di lingkungan yang exclusive pula.

Apalagi Restoran All-You-Can-Eat, terutama yang bertema Jepang dan Korea. Pengusaha restoran All-You-Can-Eat kejar-kejaran dengan waktu untuk secepatnya membuka restoran atau cabang baru. Ada pula restoran yang dirancang “Instagramable” karena didekorasi dengan sangat indah sehingga cocok ber-foto-ria untuk diunggah ke Instagram.

Masyarakat juga antusias. Pola rekreasi masyarakat di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan bergeser ke dunia kuliner. Hiburan akhir pekan atau liburan tanggal merah diisi dengan kuliner di restoran. Calon konsumen tidak keberatan untuk antri lama demi pengalaman bersantap di suatu restoran baru, apalagi restoran dengan konsep baru yang belum ada sebelumnya.

Tempat hang-out yang zaman dulu disebut warung kopi dengan sentuhan kekinian juga berkembang subur. Berbagai sebutan keren telah menaikankan peringkat “warung kopi” menjadi “café”. Tempat ini meminjam istilah asing seperti Coffee Shop, Kopitiam, atau nama keren lainnya.

Konsumen pun bersedia membayar lebih mahal. Kopi Tubruk yang berganti nama menjadi Americano Coffee dihargai 10x lipat. Di setiap sudut kota sampai mall kelas elite menjamur banyak tempat-tempat minum untuk kalangan pebisnis atau kalangan sosialita. Masyarakat Indonesia yang dikenal suka kehidupan sosial memang sangat mendukung bertumbuhnya bisnis ini.

kiat restoran psbb.png

Dunia Kuliner Dihantam Pandemi Covid19, Siasat Restoran Menghadapi PSBB

Semenjak Covid19 dan adanya aturan yang mengharuskan PBB, menjadikan eforia dunia kuliner ini mendadak berkontraksi, bukan disebabkan pertumbuhan yang terlalu cepat atau yang sering disebut bubble-burst. Berita merebaknya virus Corona awal tahun 2020 di Wuhan Cina telah menyebarkan kepanikan luar biasa ke seluruh dunia.

Apalagi sejak ditemukan kasus virus Covid19 di Indonesia, masyarakat langsung paranoid. Supermarket diserbu. Bahan makanan pokok disapu bersih. Masker dan Hand Sanitizer tiba-tiba lenyap dari pasaran. Masyarakat begitu takut dengan virus Covid19 bahkan ada yang berpergian memakai APD (Alat Pelindung Diri).

Tak pelak lagi, masyarakat jadi takut untuk makan di restoran yang ramai. Tiba-tiba saja hiruk pikuk dunia kuliner berubah senyap. Pemerintah yang melihat penyebaran virus Covid19 semakin tidak terkendali akhirnya menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Istilah PSBB yang di Negara lain menggunakan istilah Lock Down atau istilah lain intinya mendukung WHO yang telah menerapkan status penyebaran virus Covid19 menjadi Pandemi. Pandemi adalah suatu wabah penyakit global yang melintasi batas Negara. Industri kuliner di Indonesia langsung terkulai lemas. Pasalnya salah satu ketentuan PSBB secara spesifik melarang restoran atau café untuk beroperasi kecuali melayani Take-Out order atau Pesan Antar saja.

Dunia kuliner seakan runtuh seperti longsornya gunung salju avalance. Restoran yang sebelumnya sudah menerapkan opsi Take-Out order seperti Domino Pizza atau PHD (Pizza Hut Delivery) mungkin tidak terdampak secara signifikan pada divisi Take-Out mereka. Namum banyak restoran besar dan ternama yang konsepnya memang menekankan makan di tempat atau Dine-In.

Restoran self serving seperti shabu-shabu, barbeque mati langkah menghadapi situasi ini. Jika saja PSBB mengizinkan mereka beroperasi secara penuh, masyarakat juga enggan untuk berkumpul di restoran. Alasannya penggunaan masker sebagai media pencegah penyebaran virus sangat menghambat kenikmatan bersantap di restoran.

Bagaimana Reaksi Dunia Kuliner?

Masyarakat yang membatasi aktivitas keluar rumah juga membentuk pola aktivitas atau hobby baru di rumah sendiri; kegiatan seperti berkebun, nonton Drakor (Drama Korea), dan lainnya.

Pengusaha restoran atau rumah makan terpaksa mencari akal untuk bertahan, tidak terkecuali para restoran yang sudah berlangganan dengan peralatan Glori Melamin. Namun ada yang terpukul telak jatuh dan tidak bangun lagi.

Restoran seperti Ikana-Ikana (Chinese Seafood) di PIK termasuk yang beruntung karena penerapan PSBB bertepatan dengan habisnya sewa. Ditutupnya Restoran Ikana-Ikana PIK pada awal krisis adalah keputusan yang sangat tepat secara timing sehingga terhindar dari kerugian yang lebih besar.

Namun tidak semua restoran bernasib mujur. Ada yang terpaksa tutup untuk selamanya karena tidak tahan dengan beban biaya operasional. Ada juga yang baru menanda tangani kontrak sewa atau membeli franchise ketika virus Covid19 mulai mewabah di tanah air. Ada pula yang sudah kepalang basah, tetap bertahan dan berharap krisis ini segera berlalu.

Sebagian masyarakat yang terdampak di dunia kerja juga mulai berkreasi mencari penghasilan tambahan dengan membuat kue atau masakan yang kemudian ditawarkan melalui WAG (WhatsApp Group) dengan istilah Open-PO. Cara Open-PO ini cukup effektif dengan banyaknya pilihan makanan.

Dukungan masyarakat kepada pengusaha makanan rumahan dimasa Pandemi Covid19 ini tidak lepas dari value atau nilai yang mereka tawarkan, walaupun banyak juga nilai kurangnya. Harga makanan yang ditawarkan relatif lebih murah karena tidak perlu sewa tempat usaha.

Penjual dan pembeli saling kenal sehingga ada unsur trust atau kepercayaan. Ada juga yang mengatakan, “dari pada kasih cuan (untung) orang lain, mendingan bantuin teman yang lagi coba usaha”. Kebutuhan untuk makanan tetap ada, namun aktivitas masyarakat telah menggeser pola bisnis kuliner.

Siasat Restoran beradaptasi dengan perubahan

Kita mungkin tidak perlu membahas lagi tentang restoran yang terpaksa tutup selamanya. Mungkin pemiliknya sudah mendapat keuntungan yang cukup semasa jaya dan saat ini sedang menikmati hidupnya. Bisa juga pemiliknya lagi stress berat dan terpaksa merelakan segalanya untuk memenuhi kewajiban kepada para stakeholder seperti Bank, dan yang lainnya.

Pertanyaannya adalah bagi restoran yang baru buka atau yang masih bertahan selama krisis virus Covid19 berlangsung. Banyak cara yang ditempuh para pengusaha restoran. Mulai dari yang menerapkan perubahan seadanya, sampai yang melakukan perombakan besar-besaran.

  • TAKE AWAY

Bagi restoran atau rumah makan yang tidak melakukan perubahan bisa dipastikan mengalami penurunan penjualan secara drastis. Tapi kita bisa melihat semua tempat makan pasti melayani Take-Away. Pembeli yang datang bisa melakukan pemesanan untuk dibungkus dan dibawa pergi. Penerapkan konsep Take-Away beragam.

SIASAT RESTORAN MENGHADAPI PSBB• Pembeli turun dari kendaraan untuk melakukan pemesanan makanan. Kemudian menunggu pesanan disiapkan. Setelah itu makanan dibawa sendiri kembali ke kendaraan. Fortis Coffee, salah satu pendatang baru di dunia kopi di masa Pandemi ini dirancang untuk melayani Take-Away.

Target market Fortis Coffee adalah masyarakat urban. Berlokasi di BSD, Fortis Coffee melayani kalangan orang muda perkotaan yang aktif. Mereka yang tergesa-gesa hanya mampir untuk pesan kopi favorite mereka, dan segera bergegas meninggalkan tempat menuju tujuan mereka.

• Ada yang memberikan service lebih baik yaitu pembeli bisa menunggu di kendaraan. Pesanan yang sudah selesai akan diantar ke kendaraan seperti halnya Restoran Marugame Udon.

• Beberapa restoran seperti McDonald, Burger King, KFC menyediakan layanan Take-Away dalam bentuk Drive-Thru. Pesanan bisa dilakukan dari kendaraan melalui microphone yang sudah disediakan. Pesanan disiapkan dengan cepat. Setelah melakukan pesanan, kendaraan maju sekitar 10 meter ke Pick-Up Window dan biasanya tidak lebih dari 5 menit pesanan sudah siap diambil.

  • Layanan Pesan-Antar Makanan

layanan pesan antar

Zaman yang serba online, masyarakat sudah tidak asing lagi memanfaatkan Layanan Pesan-Antar Makanan dari GoFood atau GrabFood atau istilah zaman now disebut daring (singkatan dari Dalam Jaringan). Restoran rata-rata sudah memanfaatkan layanan daring ini. Kondisi pada masa Pandemi Covid19 semakin mengharuskan restoran untuk menggunakan jasa layanan ini.

Untuk makanan siap saji seperti Pizza, hamburger, nasi goreng, atau sejenisnya gampang. Tinggal mendaftar ke Layanan Pesan-Antar Makanan saja. Namun bagaimana dengan makanan tertentu yang pada dasarnya harus disajikan dan disantap di tempat? Pengusaha mau tidak mau, suka tidak suka mesti menyesuaikan cara penyajian mereka agar bisa menggunakan Layanan Pesan-Antar.

Restoran Pochajjang yang mengedepankan pengalaman menikmati daging panggang segar di restoran menawarkan daging mereka dalam bentuk frozen atau beku. Dengan cara seperti ini, konsumen tetap bisa menikmati daging pagang Wagyu atau Bulgogi kesukaan mereka di rumah sendiri. Hal yang sama juga dilakukan oleh Restoran Shaburi yang menyajikan Daging shabu-shabu. Mereka juga menyediakan Paket Siap Masak yang bisa didapatkan melalui layanan pesan-antar.

  • DINE IN CAR

covid19 dine in car

Pada masa PSBB banyak mal dan restoran yang menawarkan layanan makan di mobil atau disebut Dine-in-Car. Siasat restoran menghadapi PSBB  ini memungkinkan keluarga bisa bersantap bersama dalam privasi mobil sendiri. Penyajian inovatif ini diawali dengan melakukan pesanan makanan terlebih dahulu melalui Apps dari mal atau restoran tersebut.

Ketika tiba di lokasi, pihak restoran akan mempersilahkan mobil untuk menuju parkiran. Pesanan yang sudah diterima oleh pihak restoran dari Apps akan diantar ke mobil. Restoran Angke malahan menyediakan meja portable untuk dipasang di dalam kendaraan sebagai tempat makan.

  • CATERING

Ada pula restoran-restoran yang berubah fungsi menawarkan paket-paket catering ketika aturan pemerintah melarang tamu untuk dine-in atau makan di tempat. Restoran memang selalu siap secara infrastruktur dengan dapur, resep, dan koki. Pengalihan fungsi restoran menjadi catering sangat mudah dan bisa menjadi alternative solusi dari pada merumahkan karyawan.

  • DINE IN

dine in car psbb

Pada masa PSBB Transisi, restoran diperbolehkan untuk menerima tamu asalkan menerapkan protokol kesehatan. SOP (Standard Operation Procedure) untuk pelayanan tamu restoran dirubah agar sejalan dengan tuntutan protokol kesehatan yang digariskan oleh pemerintah. Kapasitas tamu yang diperbolehkan makan di tempat dibatasi.

Meja dan kursi di kurangi atau beri tanda untuk mengurangi jumlah tamu. Setiap tamu yang tiba di lokasi di scan suhu tubuh terlebih dahulu dan dipersilahkan untuk mencuci tangan dengan disinfektan. Sebagian restoran memasang penyekat acrylic yang membatasi sesama tamu atau memisahkan tamu dengan karyawan yang menyajikan makanan.

  • JEMPUT BOLA

Beberapa restoran lebih extreme dengan turun ke jalan menghampiri masyarakat. Nama besar seperti KFC, Starbucks, Pizza Hut adalah beberapa contoh restoran yang tidak segan-segan melepaskan image restoran demi untuk bertahan di masa sulit ini.

Siasat apa yang bisa dimanfaatkan?

Upaya yang dilakukan restoran, café atau ke ibu-ibu rumah tangga yang Open-PO menjual masakan rumahan, bisa ditarik kesimpulan kalau yang dilakukan mempunyai kesamaan yakni memberikan pelayanan kepada konsumen dengan meminimalkan resiko terhadap virus Covid19.

Faktor lezatnya masakan penting tapi bukanlah hal utama. Jika pemerintah tidak menerapkan PSBB yang melarang makan di tempat, masayarakat tetap akan waswas ke restoran. Setiap rumah makan sudah ber-inovasi dengan berbagai strategi.

Namum yang perlu digaris bawahi adalah omset mereka tetap turun. Namum semakin hari semakin banyak bermunculan pengusaha masakan rumahan. Apa yang membuat usaha ibu-ibu rumah tangga dengan modal panci dan kuali seadanya bisa bertumbuh ditengah terpuruknya bisnis kuliner?

Apa yang bisa kita belajar dari Ibu-ibu rumah tangga yang melakukan Open-PO? Ketika akan menawarkan masakannya (Open PO), mereka melakukan Jemput Bola dengan menyapa calon konsumen. Kalau restoran mengandalkan Apps untuk menerima pesanan, maka Ibu-ibu ini memanfaatkan Whatsapp, Facebook, atau Instagram mereka untuk menawarkan masakannya kepada kalangan teman-temannya, atau sekarang dikenal dengan teknik Digital Marketing.

Makanan bisa dikirim melalui Ojek Online atau kadang dikirim sendiri oleh si Ibu atau anggota keluarganya. Jadi Ibu-ibu ini juga memanfaatkan metoda kekinian seperti yang dilakukan restoran besar.  Selain itu harga bisa dipastikan lebih murah, ini memang salah satu siasat restoran menghadapi PSBB.

Tapi faktor peace-of-mind sebenarnya paling besar andilnya. Biasanya pembeli dan penjual adalah teman. Selain saling kenal mereka juga sering berasal dari kalangan ekonomi yang hampir sama. Hal ini membuat konsumen merasa bahwa pesanan mereka diproses di dapur yang mirip di rumah mereka yang bersih. Cara memasak mereka juga higenis seperti cara mereka memasak untuk keluarga mereka sendiri.

Jadi yang membedakan adalah cara pandang konsumen terhadap siapa mereka memesan makanan mereka. Jadi bukan hanya faktor mendekatkan diri kepada konsumen seperti yang dilakukan oleh Pizza Hut dengan berjualan dipinggir jalan.

Tapi juga faktor persepsi kesamaan konsumen dengan siapa yang menyiapkan makanan mereka.  Oh, ada satu kekurangan ibu-ibu ini tapi sekaligus menjadi kelebihannya. Biasanya ibu-ibu yang Open PO hanya menawarkan masakannya pada hari tertentu saja, tidak setiap hari.

Selain itu, mereka juga tidak sanggup menerima pesanan yang banyak. Jadi limited order dan limited time. Ternyata secara tidak sadar ibu-ibu ini sudah menerapkan strategi sales yang membuat orang cenderung untuk melakukan pesanan sebelum kehabisan.

Restoran bisa mengambil idea dari pengusaha rumahan dan mengemasnya ke service model mereka yang lebih professional. Akhir kata, penulis berharap Pandemi Covid19 segera teratasi sehingga dunia kuliner bisa bangkit kembali.

Djohan Halima
Penulis adalah pemerhati dunia usaha kuliner sekaligus supplier peralatan makan melamine untuk restoran dengan merek Glori.

Open chat
1
Hello, Selamat Datang di Glorimelamine.com,
Ada yang bisa kami bantu ?
Yuk lanjut di chating aja biar cepat...