Jepang merupakan salah satu negara yang kaya akan ragam kuliner berkuah hangat. Hidangan seperti ramen, miso soup, hingga nabemono (hidangan rebusan) selalu menjadi pilihan favorit, terutama saat musim dingin. Dari sekian banyak jenis makanan rebusan khas Jepang, sukiyaki dan shabu-shabu termasuk yang paling populer dan sering membuat orang terkecoh karena tampilannya mirip. Memahami perbedaan sukiyaki dan shabu-shabu ini bukan hanya menambah wawasan kuliner, tetapi juga membantu kita lebih menghargai keunikan filosofi makanan Jepang yang selalu menekankan keseimbangan rasa, kesegaran bahan, dan pengalaman bersantap yang menyenangkan.
Memahami Perbedaan Sukiyaki dan Shabu-shabu
Kuliner Jepang dikenal memiliki banyak hidangan berkuah yang hangat dan menyehatkan. Dua di antaranya yang cukup populer adalah sukiyaki dan shabu-shabu. Sekilas, keduanya tampak mirip karena sama-sama menggunakan irisan daging tipis, sayuran segar, dan dimasak langsung di meja makan. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, sukiyaki dan shabu-shabu memiliki perbedaan yang cukup mencolok, baik dari segi kuah, cara memasak, maupun cara menyantapnya.
Asal dan Filosofi Hidangan
- Sukiyaki mulai populer di Jepang pada era Meiji (abad ke-19), ketika masyarakat Jepang mulai terbuka pada konsumsi daging sapi setelah sebelumnya lebih banyak mengonsumsi ikan. Hidangan ini sering dianggap mewah dan biasanya disajikan pada acara khusus.
- Shabu-shabu muncul lebih belakangan, sekitar tahun 1950-an di Osaka, Jepang. Nama “shabu-shabu” berasal dari bunyi saat daging dicelupkan dan digoyangkan di kuah panas. Hidangan ini lebih sederhana dan praktis, tetapi tetap menekankan kualitas bahan.
Kuah dan Rasa
- Sukiyaki menggunakan kuah berbumbu manis dan gurih yang terbuat dari campuran kecap asin Jepang (shoyu), gula, serta mirin. Kuahnya kental dan meresap ke dalam daging maupun sayuran, sehingga cita rasanya cenderung manis-gurih.
- Shabu-shabu memakai kuah kaldu bening yang ringan, biasanya hanya terbuat dari kombu (rumput laut) dan air. Tujuannya agar rasa asli dari daging dan sayuran tetap menonjol tanpa banyak tambahan bumbu.
Cara Memasak
- Sukiyaki dimasak dengan cara menumis daging terlebih dahulu dalam panci besi datar, lalu ditambahkan kuah bumbu dan sayuran. Proses ini membuat daging menyerap rasa manis-gurih dari kuah.
- Shabu-shabu berbeda karena daging diiris sangat tipis, lalu dicelupkan sebentar ke dalam kuah panas hingga matang, kemudian langsung dimakan. Sayuran dimasukkan ke dalam panci sedikit demi sedikit bersama daging.
Cara Menyantap
- Sukiyaki biasanya disantap dengan cara mencelupkan daging atau sayuran yang sudah matang ke dalam kocokan telur mentah sebelum dimakan. Rasa manis-gurih kuah akan berpadu dengan tekstur lembut telur, memberikan sensasi unik khas Jepang.
- Shabu-shabu disantap dengan saus celup (tare) seperti ponzu (saus jeruk asam) atau goma dare (saus wijen). Proses ini menambah lapisan rasa tanpa menghilangkan kesegaran bahan utama.
Suasana dan Pengalaman
- Sukiyaki identik dengan suasana hangat, biasanya disantap bersama keluarga dalam perayaan atau acara khusus. Cita rasanya yang manis membuatnya disukai berbagai kalangan.
- Shabu-shabu lebih fleksibel dan cocok untuk santap bersama teman atau keluarga sehari-hari. Sensasinya lebih ringan dan menekankan pada kualitas bahan makanan itu sendiri.
Penutup
Meskipun sama-sama menggunakan daging tipis, sayuran, dan dimasak langsung di meja makan, sukiyaki dan shabu-shabu memiliki identitas yang berbeda. Sukiyaki menghadirkan rasa manis-gurih dengan kuah berbumbu kaya, sementara shabu-shabu lebih sederhana dengan kuah bening yang menonjolkan rasa alami bahan.
Dengan memahami perbedaannya, kita bisa lebih menghargai keunikan kuliner Jepang dan memilih hidangan sesuai suasana sukiyaki untuk momen spesial yang hangat, atau shabu-shabu untuk santap ringan nan elegan.

0 Comments